Harga Diri Wanita dalam Novel

Judul Buku      : Surya Candra ‘TUNDUK’

Penulis            : Fithriyah

Tebal Buku     : viii + 239 hal.

Penerbit           : MECCA

Tahun Terbit   : 2022

Peresensi: Djumiatun SR/Ruby Ng.

SINOPSIS

Novel TUNDUK merupakan novel fiksi yang sangat unik dari segi penyajiannya. Novel berlatar kedinasan dan kisah nyata. Tunduk mengisahkan seorang AZKA, gadis lulusan S3 dari suatu perguruan tinggi di Tokyo, yang bekerja sebagai Kepala Bidang Pemberdayaan dan Perlindungan Perempuan. Dia dibesarkan dalam keluarga yang moderat dan mendorong putra putrinya bersekolah setinggi-tingginya, terjebak dalam stigma masyarakat termasuk sebagian kerabat terdekatnya, tentang kedudukan suami istri.

Dalam usia di atas 30 th dan masih lajang membuat keluarga besarnya terutama seorang paman yang merasa sebagai wali dari Azka sepeninggal ayahnya, terus mendesak untuk segera menikah. Beliau bahkan berniat menjodohkannya dengan duda tua untuk kepentingan ekonomi keluarganya. Kejadian ini sangat melukai perasaannya. Bahkan akibat kata-kata walinya ini, ibundanya menjadi stress berat dan sakit hingga meninggal. Namun di akhir pertemuannya secara tersirat ibundanya mengutarakan jika kebahagiaan terakhirnya adalah melihat putra-putrinya berkeluarga dan hidup bahagia.

Dalam melakukan kegiatan kedinasan, tanpa sengaja dia selalu mengenal orang-orang yang tersakiti dalam kehidupan rumah tangganya, termasuk mantan teman SMA-nya dulu. Peristiwa miris yang didengarnya ini, membuat dirinya menarik kesimpulan bahwa berumah tangga bagi Wanita adalah pelayan tanpa bayaran bagi suami dan keluarga kecilnya, benar-benar membawa penderitaan. Dalam pandangannya kaum lelaki adalah orang yang sangat egois dan selalu merasa unggul. Meski di sisi lain banyak juga laki-laki yang begitu lemah tidak berdaya dan tidak mau berusaha tapi menindas istrinya.

Namun bagaimanapun Azka tetap berkewajiban untuk menikah karena keinginan untuk membahagiakan almarhumah ibunya. Untuk itu dia bahkan hampir melupakan kebahagiaannya, menerima cinta pria yang tidak disukainya, dengan syarat melakukan pendekatan sesuai syariat. Pria itu berangkat ke Amerika untuk melanjutkan S3 dan berjanji akan menikahinya setelah lulus. Beruntung dia mengetahui dengan mata kepalanya sendiri penghianatan pria itu, sehingga ada alasan untuk menolak cintanya.

Berkat tantenya, adik bungsu ayahnya, yang berprofesi sebagai seorang dokter dan berpandangan seperti orang tuanya, Azka memperoleh pencerahan tentang berkenalan yang baik dan benar sebagai sarana untuk menilai calon pendamping yang terbaik baginya. Tantenya menjelaskan bagaimana cara mengenal calon pendamping hidup. Suatu cara berkenalan sesuai syariat, bukan sekedar mengenal pribadi calon tersebut, sebagaimana dilakukan anak muda jaman sekarang dengan istitalah berpacaran. Yaitu masa perkenalan untuk mengenal calon pendamping beserta orang tua dan keluarganya yang memengaruhi kehidupan dan cara hidup calonnya. Dengan demikian dalam kehidupan rumah tangganya kelak akan benar-benar bisa menyatu dengan keluarga pasangan hidupnya dan dapat hidup bahagia bersama. Beliau juga bepesan untuk terus memohon petunjuk kepada Yang Mahakuasa, karena jodoh adalah ketetapan-Nya, manusia hanya bisa berupaya untuk mendapatkannya.

Akhirnya Azka mampu memenuhi keinginannya untuk membahagiakan almarhumah ibundanya dan mengikis ketakutannya untuk berumah tangga. Dengan melakukan fase perkenalan yang baik dan benar sesuai kaidah, dia bertemu jodohnya. Semuanya bahagia.

KELEBIHAN

Di novel ini Penulis mampu meramu kegiatan resmi suatu institusi dengan kisah nyata yang terjadi di masyarakat menjadi suatu cerita fiksi. Penulis merangkai dengan apik cerita dari para tokohnya yang terlibat dalam kegiatan masyarakat yang menjadi program kerja dari instansi tempatnya bekerja, dibumbui dengan kisah hidup rumah tangga orang-orang di seputar tokoh dalam cerita.

Novel ini juga mengajarkan bagaimana berkenalan dengan baik dan benar, bukan sekedar berpacaran, karena pernikahan adalah bertemunya 2 keluarga besar yang tentu sangat berbeda pola hidupnya. Mengenal dengan baik calon pasangan hidup dan keluarganya akan mudah mengatasi konflik yang terjadi dan mengurangi singgungan-singgungan yang menyakitkan. Bahkan malah bisa saling mendukung.

Kisah ini juga menginpirasi kaum wanita untuk bisa hidup mandiri dan mempunyai harga diri serta pantang menyerah pada keadaan dan berani menghadapi masalah kehidupan, meski tidak meninggalkan adab bermasyarakat.

KEKURANGAN

Mungkin karena latar belakang Penulis yang berprofesi sebagai seorang perencana, maka dalam menyusun novelnya beliau menggunakan time table, sehingga pembaca seperti sedang membaca sebuah buku catatan harian yang sudah di atur ulang penempatan waktunya. Pengaturan ulang ini disesuaikan dengan alur cerita.

Cara pandang yang digunakan dalam penulisan, penulis mempergunakan POV 1. Pemakaian ini menjadi agak membingungkan karena pergantian tokoh aku yang terlalu langsung tanpa penjelasan, sedang pembaca masih terbawa pada tokoh aku dalam adegan atau bab sebelumnya. Dan ada beberapa pergantian yang terjadi pada adegan dalam satu bab. Pembaca baru menyadari perubahan tokoh aku jika ada dialog.

Jakarta; Agustus 2022


Djumiatun SR/Ruby Ng

Penulis kelahiran 25 Januari yang sedang belajar menulis dengan baik. Ini adalah resensi pertama yang dibuat sebelum belajar bagaimana membuat resensi yang baik. Semoga hasil resensi ini berguna bagi mbak Fitriyah sebagai penulis novel Tunduk dari serial Surya Chandra. Mudah-mudahan author berkenan. Semoga ada kawan-kawan yang berkenan meresensi novel saya untuk kebaikan ke depannya.

One Comment

Apa komentarmu?

Tenang, email-mu tidak dipublikasikan - bagian * wajib diisi

Name - City
Membeli Product Time